Mendulang Emas Biru dari Daun Tom

Kalau berkunjung di kampung wisata Regol Gili Progo, Anda akan sering mendengar  aneka suara  burung berkicau seperti prenjak, but-but, derkuku, perkutut, emprit, jalak  dan sebagainya. Tak jarang tupai  dan biawak yang ditempat lain sudah tidak pernah ada,  dapat ditemui di sini.  Memang di sepanjang tanggul bantaran sungai Progo ini   masih banyak sekali  pohon-pohon besar dan kecil yang menjadi habitat pendukung berbagai fauna yang sengaja kami biarkan hidup bebas agar keseimbangan alam terjaga.

Oo ya..di siang hari Anda berada  tempat ini akan  terasa lebih nyaman, karena adanya tiupan sepoi-sepoi angin laut yang berhembus dari samudra Hindia Belanda yang menyapu daratan . Di tempat inilah kami bekerja mengolah Indigofera  (tom) menjadi nila.   Tanaman tom sebagai bahan baku produksi nila kami budidayakan di sawah-sawah tadah hujan dimana  pada zaman kolonial dulu tanaman ini wajib untuk ditanam. Ada perbedaan suasana batin menanam tom zaman dulu dengan saat ini. Simbah-simbah buyut dulu menanam tom dalam keadaan tertekan dibawah ancaman Tuan Mandor! Saat ini  kami jalani  dengan hati  gembira.

Meskipun  produksi “emas biru” ini di kerjakan secara tradisional ini, namun secara kwalitas tidak diragukan lagi. Peminat pewarna indigo ini  tidak hanya para pengrajin dalam negeri, tak jarang kami mengirim indigo ke luar negeri seperti : Jepang, Malaysia, dan Israel, baik dalam bentuk pasta maupun powder. Agar konsumen tidak salah pilih, zat warna alam indigo produksi dari Puspita Batik dipasarkan  dengan merk dagang “Blue Gold”.

Untuk mendapatkan “emas biru” ini prosesnya cukup panjang. Dimulai dengan pembenihan pada polybag, setelah 3 minggu bibit indigo ini dipindah di lahan budidaya.
Penanaman di lahan dilakukan setelah bibit berumur 3 minggu dengan jarak tanam 0.5 m.
Kira-kira 2 minggu setelah tanam, terlihat pertumbuhan yang cepat. Sistem perakaran pada tumbuhan ini memungkinkan untuk memproduksi nitrogen sendiri untuk kebutuhannya.
Dua bulan setelah tanam, tanaman indigofera sudah mulai mengeluarkan bunga, Saat itulah tanaman siap di panen. Panen hanya boleh dilakukan ketika sore hari setelah jam 16.00 atau pagi sebelum jam 7.00, pemanenan yang dilakukan disiang terik akan berpengaruh pada kwalitas warna indigo yang dihasilkan.
Selanjutnya tanaman Indigofera yang telah dipanen dimasukkan dalam bak-bak fermentasi yang terbuat dari semen . Perendaman dengan air sumur dalam bak fermentasi ini berlangsng 24-32 jam yang melibatkan bakteri penghasil enzim untuk mengubah zat warna indican yang terkandung pada daun menjadi bentuk indoxyl.
Air rendaman hasil fermentasi berwarna hijau kekuningan dengan bau yang khas, dialirkan ke dalam bak aerasi untuk proses selanjutnya.
Proses aerasi menggunakan pompa air untuk mengubah gugus indoxyl yang tidak stabil secara struktur kimiawi , menjadi indigo yang stabil sehingga bisa disimpan dalam jangka waktu yang lama.
Setelah disedimentasi selama 12 jam, zat warna indigo akan mengendap didasar bak, selanjutnya air dipisahkan dengan endapan indigo untuk selanjutnya difiltrasi bertujuan mengurangi kadar air sehingga didapatkan zat warna indigo dalam bentuk pasta,
Zat warna alam indigo siap di packing untuk didistribusikan kepada para pelanggan..
Mr Yamauchi datang dari Tukushima sebuah kota di Jepang, ingin melihat secara langsung lahan budidaya dan proses pembuatan indigo. Yakin dengan kwalitas indigo dari Bantul setelah mencobanya dengan teknik pencelupan yang biasa dia lakukan di Jepang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *